1. Sabang Fair

Pulau Weh
Saat membuka peta digital dari ponsel, saya mencari lokasi terdekat yang bisa dikunjungi dari guest house. Ternyata guest house kami jaraknya cukup dekat dengan lokasi Sabang Fair ini. Kami tidak tahu seperti apa Sabang Fair, cukup unik juga membaca namanya lewat maps. Ternyata Sabang Fair itu semacam lapangan luas yang biasa dimanfaatkan untuk kegiatan.

TEDx Sabang
Ketika kami sampai di Sabang Fair ternyata sedang ada acara dari TEDs dari Bekraf. Akhirnya kami ikut menjadi peserta mendengarkan sesi para pemateri memberikan informasi. Dalam hati, wah kece nih Sabang punya acara keren.
2. Gua Sarang

View dari lokasi Gua Sarang
Kami tiba di suatu dataran tinggi dengan view menghadap ke suatu danau. Dari tempat saya berdiri view pemandangan ini cukup asri untuk duduk bersantai sejenak. Menurut informasi yang saya dapat, untuk menuju Gua Sarang masih memerlukan waktu lagi untuk menapak ke bawah.
Terus saya pergi? Kalau ditanya tentu saya pengen pergi, hanya saja waktu kami terbatas jadi kami hanya menikmati dari atas pemandangan.
3. Kapal Pattaya III

Kapal Pataya III
Setelah menikmati pemandangan danau cantik dari Gua Sarang, mobil kami berpindah ke suatu tempat seperti resort. Di kelilingi perpohonan mobil kami berhenti. Saya juga mempertanyakan ini kita ke mana ya? Ternyata kami di ajak untuk melihat kapal Pataya III yang terdampar di kawasan Iboih, Sabang.

Jalanan masuk ke lokasi
Kapal Pataya III termasuk kapal kargo yang sedang berlayar di perairan Sabang dan sekitar, namun terjadi kerusakan pada bagian mesin dan diterpa badai sehingga membuat kapal ini jadi tidak beroperasi. Saya tidak tahu musibah kapal Pataya III ini apakah pantas dijadikan objek wisata? 
4. Monumen Titik Nol Kilometer

Berfoto di landmark Sabang, Tugu Titik Nol Kilometer
Suatu kota tentunya memiliki landmark yang layak untuk dikunjungi. Apalagi bagi yang baru pertama kali datang ke Pulau Weh. Titik Nol Kilometer ini menjadi salah satu objek wisata Sabang yang ramai didatangi oleh wisatawan.
FYI.Dulu di lokasi Titik Nol Kilometer ada layanan untuk mendapatkan sertifikat sebagai tanda kita sudah pernah berkunjung ke Sabang. Namun, sayangnya fasilitas ini sudah ditiadakan lagi sehingga kita hanya bisa berfoto saja dengan latar tugu Titik Nol Kilometer saja.
Di sekitar kawasan ini terdapat para penjual souvenir seperti baju, topi dan gantungan kunci. Serta juga terdapat pedagang kaki lima yang berjualan gorengan dan kopi.
5. Tugu I Love Sabang

Tugu I Love Sabang
Tugu I Love Sabang menjadi objek wisata baru yang ramai dikunjungi setelah tugu Titik Nol Kilometer. Letak tugu dikatakan cukup strategis karena berada di Taman Elak. Di sebelah kiri tugu kita bisa melihat pemandangan Danau Aneuk Laot dengan hutan yang rimbun.
Namun, sayang sekali objek wisata ini sama seperti tugu Titik Nol Kilometer yang mana tidak ada aktivitas bisa dilakukan, selain berfoto kemudian pergi melanjutkan ke objek wisata lainnya.
6. Bunker Jepang Anoi Itam

Bunker Jepang Sabang
Dulu sewaktu menulis tentang pariwisata Sabang, saya pernah menulis tentang Pantai Anoi Itam yang memiliki keunikan pasir pantai berwarna hitam. Kemudian di atas pantai terdapat sebuah bunker tempat menembakkan meriam saat tempo dulu. Sisa peninggalan Jepang ini menjadi objek wisata di Sabang.
Bunker Jepang ini langsung menghadap ke arah laut dengan dataran yang curam ke bawah. Saat masuk kawasan bunker Jepang Anoi Itam ini kita akan diminta retribusi masuk per kepala. Ada satu hal yang saya sesalkan di kawasan wisata ini adalah retribusi yang tidak jelas, seperti biaya masuk toilet yang ditulis Rp 2000,- tapi saya ditagih Rp 3000,-.

Pemandangan dari atas bunker

Ruang dalam bunker kurang terawat

Jalan masuk ke bunker Jepang
Kembali sayang, bunker Jepang ini sepertinya tidak terawat, jalan menuju ke atas ada sampah-sampah berserakan. Serta kondisi bunker cukup memprihatinkan, tidak ada pemandangan yang bisa dinikmati selain hamparan laut yang luas dan deruan ombak.
7. Jalanan Mulus di Sabang

Pemandangan berkelok
Setelah kami dari tugu I Love Sabang, kami melewati sebuah jalanan berkelok yang mulus. Kami berhenti sejenak menikmati suasana alam di Sabang. Dari sini kita bisa melihat sepenuhnya suasana pemandangan hutan, rumah penduduk dan alam. Seolah mencirikan alam Sabang yang masih alami dan sederhana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar